Langsung ke konten utama

Di Kampusmu Itu


Oleh : FRS

"Aku ke Bogor hari Sabtu, jemput ya sayang...". pesan singkatku sambil memperlihatkan tiket kereta api. Kebetulan ada keperluan keluarga, tidak ada salahnya untuk menemuimu di Depok sana.

"iya, aku akan menemuimu" balasanmu dengan sangat lembut. Aku tahu balasan itu kamu berikan dengan penuh rasa bahagia sambil tak sabra menunggu kedatanganku.

Hari itu akhirnya tiba, Jumat aku berangkat bersama keluargaku menuju stasiun Bogor, kami tiba waktu petang dan langsung menuju rumah saudara di Bogor, kamu tak langsung menemuiku karena pekerjaan yang saat itu sedang menumpuk.

Hari Sabtu, kamu tak kunjung menemuiku, karena memang janji kita di hari minggu, kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu, tapi aku menunggu waktu ku bersamaku datang. Akhirnya hari itu datang, tak diduga saudaraku yang lain menyusulku ke Bogor, dan membuat aku takut kamu tak mau menemuiku. Namun akhirnya kamu mengatakan "tidak apa-apa, aku akan tetap menemuimu".

Hari itu datang, dari subuh aku sudah mandi dan siap untuk menyambutmu, dengan baju flanel kotak yang aku sengaja pakai pertama kali untuk menemuimu. Tanteku mengatakan "pagi amat teh, mau kemana? mau ketemu siapa".  Senyumanku tampaknya cukup untuk mengatakan kalo aku akan menemui orang penting, bagiku lebih penting bahkan daripada pejabat eselon atau anggota DPR. Itu adalah kamu sayang.

Dengan wajah yang mulai pucat karena merasakan getaran "dag dig dug", takut jika kamu tak jadi menemuiku, namun aku mecoba tetap tenang. Aku yakin kamu akan menemuiku. Perasaan ini semakin berdebar saat kau mengatakan "sayang, aa udah di stasiun depok, kasih tau lokasinya dimana, nanti aa kesana". dan tak lama berselang hanya sekitar 45 menit, kamu tiba-tiba memberi kabar kalo kamu sudah sampai di depan komplek. "Aa udah sampai, jemput aa kesini".

Dag dig dug... akhirnya aku meminjam motor saudaraku dan menemuinya. Tampak jelas dari jauh pria tampan menggunakan baju flanel berwarna biru dongker, hitam, dengan senyum hangat nya yang seperti melambaikan kata "aku disini".  Aku memberhentikan motorku lalu mengatakan "hai sayang", sambil ku cium tanganmu.

"ayo sayang"..

kamu naik ke motor dan sampailah ke rumah saudaraku. Riuh gemuruh isi rumah seketika menjadi penuh dengan senyuman,

"eh ini siapa de isti" kata tanteku.

kamu datang dan menyalami semua saudaraku dari mulai nenek, kakek hingga sepupuku, dan kau mengatakan.

"saya adalah... sesuatu nya de isti" kamu mengatakan itu sambil senyum senyum.

Lalu tak lama berselang, meminta izin ke orang tuaku, akhirnya kamu mengajak aku pergi.

Angkot 05 jurusan Cimahpar - Stasiun Bogor bagiku adalah jet pribadi yang membawaku untuk mengarungi indahnya hari bersamamu. Kita saling berhadapan, dan kamu mengatakan "tangannya mana?" kamu meraih tanganku dan memegang tanganku dengan erat

Angkot itu membawaku ke stasiun bogor kota.
sebelum sampainya disana, terlihat ada  jajaran tukang kue basah..
dan kau mengatakan.

"Mau ga? ini enak loh".
"enggak, neng udah kenyang".
"ayolah mau yaaa, buat dijalan", katamu
"aa mau?"
"iya, mau..."
"yaudah neng juga mau.. "
"neng mau kue apa?" sambil dia mengambil kue lapis kesukaannya
"mau kue sus aja" kataku
"mau kue lapis juga yaaa.. jaga-jaga takut neng mau kue lapis dan laper di jalan" katamu

akhinya di pinggiran jalan itu, kami masing-masing memakan kue basah. kamu memakan kue lapis, aku memakan kue sus. Pinggiran jalan itu seperti resto di hotel bintang lima, bukan hanya karena kue basah itu, terlebih karena kamu yang ada di sampingku.

"Kita mau kemana?" kataku
"ayo kita kunjungi kampus aa". katamu.

Kami menaiki kereta yang sedikit lebih ramai, hingga kami pun berdiri, saling berhadapan, terutama kamu yang tak pernah mengalihkan pandangannya dariku.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" kataku
"kamu cantik, aku senang melihatmu. Kamu tahu tidak, di kota besar seperti Jabodetabek mungkin tak akan ada yang seperti kita, yang saling menunjukan rasa jatuh cinta seperti ini". katamu

Kita terus saling berpegangan tangan, kami memang berbeda dengan orang Jabodetabek lainnya yang kalo kata kamu kalo pacaran udah di cafe, di mobil, di mall. Kami adalah kami dengan semua rasa romantis yang kami punya, menurutku itu sudah bisa membuat orang iri. Hingga di kereta banyak yang melihat kami, aku tak peduli apa yang dikatakan orang, yang penting saat itu aku bersamamu.

Stasiun Bogor - stasiun cilebut - stasiun bojong gede - stasiun citayam - stasiun depok - stasiun depok baru - stasiun pondok cina - stasiun UI.

Kami sampai dikampusnya, menurut kamu UI itu adalah tempat paling teduh se Depok, kami menyebrangi jalan besar di UI dan sampai di antara pepohonan besar di UI. Kami tetap berpegangan tangan.

"kalo ketemu mahasiswa aa gimana?"
"ya gapapa, paling mereka akan tau kalau aku bersamamu"

hingga akhirnya sampai ke FIB UI, kamu bilang.

"ini adalah tempat aku belajar, dan bekerja"
"wah, besar ya?"
"mmmm..." katamu

Namun tiba-tiba pegangan tangan itu terlepas dari tanganku.
"kenapa dilepas? kamu malu"
"bukan sayang, aku tak pernah malu tentangmu. tapi ini karena ini termpat kerjaku, pekerjaanku adalah asisten dosen, bagaimana pandangan mahasiswa dan dosen yang melihat saat aku berpegangan tangan denganmu." katamu
"oke, aku mengerti"

aku diam di salah satu spot tersejuk dan disana terdapat seperti patung-patung, dan ini adalah spot favorite mu saat berada di UI.

"haus? aku belikan minum ya?" katamu
"iya" kataku

kamu pergi ke salah satu mesin minuman dan akhirnya memilih minuman air mineral dingin.

setelah itu kamu mengajaku ke Jembatan merah, mungkin itu adalah jembatan yang memisahkan antara UI Jakarta dan UI Depok, hahaha.. aku hanya menebak saja.

Disana kami tak lama. Hanya berbicara beberapa kata dan kamu memberikan buku untukku. Dua buah buku belajar bahasa turki dan buku sejarah karyamu. "ini adalah karya kesayanganmu" ucapmu.

Setelah itu kita berjalan menuju Danau UI dan disana terdapat gedung rektorat UI. Akhirnya aku meraih tangamu kembali dan mengatakan "udah boleh pegang tangan kan? kan udah jau dari FIB".

"boleh sayang" katamu

Di bangku itu, depan perpustakaan UI
aku dan kamu beristirahat, berbicara banyak hal, menyampaikan pujian, gombalan, dan saling menatap ke arah danau. Kamu pun tertidur di tempat duduk di sana. Sambil menatap langit, dan aku hanya bisa melihatmu. Tak lupa kami mengabadikan setiap momen kami dengan berfoto.

Suara adzan, kami pun sholat di mesjid UI dan akhirnya meninggalkan UI menuju salah satu tempat kesukaanmu untuk makan. Nama tempatnya BAREL (belakang rel). Disana menyediakan menu menu ala mahasiswa, dan jujur aku suka makan disana, karena memang enak. Tak perlu ke Margo City untuk menemukan tempat makan yang enak, karena BAREL menyediakan makanan enak, bersih dan murah.

Setelah itu kami pergi dari arah UI dan tibalah kami di sepanjang jalan Margonda Raya, jalanan cepat dan berbeda dengan Cianjur ataupun Bandung, karena ini adalah Depok. Kebetulan ada hal yang akan dibeli, akhirnya kita ke Margo City. Tidak lama, hanya sebentar, untuk ke Margo City, kita harus naik angkot.

"Aa dulu yang naik angkot" katamu
"iya sayang" kataku.
lalu dia bercerita.

"Saat naik kendaraan, harus aku dulu yang naik, karena aku takut kamu dibawa lari, namu harus kamu yang turun duluan, agar kamu enggak dibawa lari"

Setelah dari Margo City, kamu mengantarkan aku pulang kembali ke Bogor naik kereta api, lewat stasiun Pondok Cina. Sesampainya di Stasiun Pondok Cina

Sore itu....
Di dalam kereta...
Saat itu kereta kosong dan kita bisa duduk dimana saja..

Kamu memilihkan tempat duduk di paling pojok di kereta.
Disana hanya kita berdua.. Tak ada seorang pun yang berani duduk di sekitar kami.

"sayang, cape ya?" katamu
"mmmm.. lumayan sayang.." kataku
"sini sayang" katamu sambil menyandarkan kepala ku ke bahumu, kamu pun menyandarkan kepalamu ke kepalaku.

Mmmm... saat itu aku hanya ingin menghentikan waktu. Aku ingin seperti ini terus, selamanya. Tidak ada hal lain yang aku inginkan sekarang dan selamanya. Hanyalah kamu yang aku mau. Kereta pun entah mengapa bergerak terlalu cepat?? Apa karena aku ingin lebih lama seperti ini, denganmu.

Akhirnya sampailah di stasiun bogor kota, dan kami mencari mobil dari aplikasi online.
"aduh, sayang uangnya a, mahal banget" kataku
"gapappa, kan neng nya cape" katamu

Saat di kendaraan online itu aku menatap wajahnya sambil mengusap dahi dan kepalanya yang penuh dengan keringat. "aku sayang kamu", kataku.
"aku juga sayang kamu neng".

Saat itulah, kamu berkata sesuatu padaku.
"aku tidak pernah terintimidasi oleh keluargamu, aku justru senang mengenal keluargamu, aku tidak pernah takut mengenal keluargamu, karena aku tidak pernah punya niatan yang jahat padamu, niatku baik, aku serius".

Kendaraan itu mengantarkan ku ke rumah saudaraku lagi, dan sanak saudaraku masih berkumpul disana. Dia tak langsung pulang, melainkan berbincang bersama keluargaku terlebih dahulu.

Aku bahagia, ini pertama kalinya papah bisa akrab dengan sosok aa. Sosok yang aku mau,
"apa ini pertanda? kami di restui?"

Yang pasti..
Aku bahagia.

Kamu pulang, aku mengantarmu dan tak lupa memelukmu dengan erat.
"sampai ketemu lagi sayang, aku sayang kamu" katamu
"ya sayang, aku juga sayang kamu" kataku.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Sebuah Kata Rindu

Oleh   :  FRS Assalamualaikum, Ki ini Nzam.. Kata paling indah yang pernah tertulis dalam pesan singkat whatsapp.  Menggiring hati ini untuk selalu rindu padamu.  Pertemuan tak disangka yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.  Awalnya ku takut meraihmu.  Dengan track record tak pernah LDR,  akankah ku bisa meraihmu.  Untukku,  kamu adalah mimpi,  mimpi yang aku tak tahu apakah ku bisa meraihmu atau tidak? Tabu memang,  namun bermodalkan rasa inginku meraihmu, akhirnya ku beranikan diri.  Sosok yang entah bagaimana,  aku tak tahu,  tapi ku menyukai setiap cerita yang kamu ceritakan,  bahkan aku menunggu setiap cerita yang kamu setiap hari.  Lama aku mengenalnya akhirnya aku dan kamu memutuskan untuk bertemu. Di depan mini market,  ku lihat ada seorang pria yang dapat menentramkan hatiku,  ku parkirkan motor ku dan kamu menyapa.  "Hai",  sapa kamu padaku,  "Aa...

Saya PCOS?

Pernikahan berlangsung dengan bahagia di tanggal 27 Juli 2019. Apakah yang dinantikan dari sebuah pernikahan? Memang itu bukan hal yang paling terpenting namun selalu dinantikan. Dia adalah anak. Saya dan suami tak pernah memiliki target dalam bulan pernikahan ke sekian harus memiliki anak.  Apalagi kami melakukan Long Distance Married antara Jakarta dan Cianjur,  karena saya saat itu masih bekerja di Cianjur. Bulan Agustus dan September berjalan baik-baik saja,  sampai akhirnya bulan November pun tiba,  ko telat haid ya.  Telat nya bukan main sampai seminggu.   Rasa penasaran pun timbul,  jangan-jangan saya hamil. Rasa percaya diri luar biasa.  Akhirnya kami berdua membeli tespack dab mencoba keesokan harinya, hasilnya "ko negatif ya? Apa mungkin belum terdeteksi? Yasudah coba lagi minggu depan.  Saat dua minggu terlambat haid,  saya akhirnya mencoba tespack lagi tetap hasilnya negatif.  Ini pasti ada yang aneh.   De...

Perasaan yang terus berkembang

Oleh : FRS  Saat itu, saat waktu berlalu..  Ku melepas mu saat kau menaiki mobil colt itu, melepas setiap meter jarak diantara kita.  Melepas untuk merasa rindu.  Kau pun langsung menyapa lewat pesan singkat.  Iki...  Katamu Apa sayang? Kataku Masih kangen..  Katamu Aku juga merasakan kerinduan yang sangat luar biasa.  Waktu berlalu saat bulan puasa.  Ini puasa pertama kita sayang,  itu katamu.  Dalam doaku selalu aku panjatkan agar kau selalu bersamaku menghabiskan waktu dalam setiap momen,  termasuk bulan puasa,  dalam doaku,  ku selalu berharap agar bulan ramadhan selanjutnya dan selamanya, kita bisa bersama.  Jarak yang memisahkan,  membuat rindu ini terus terkumpul dan terakumulasi dengan sangat luar biasa.  Aku biarkan rasa rindu ini terus berkembang,  dalam menahan rindu ini aku berusaha untuk memperbanyak setiap aktivitas, agar rindu  ini tidak terlalu terasa berat....