Pernikahan berlangsung dengan bahagia di tanggal 27 Juli 2019. Apakah yang dinantikan dari sebuah pernikahan? Memang itu bukan hal yang paling terpenting namun selalu dinantikan. Dia adalah anak. Saya dan suami tak pernah memiliki target dalam bulan pernikahan ke sekian harus memiliki anak. Apalagi kami melakukan Long Distance Married antara Jakarta dan Cianjur, karena saya saat itu masih bekerja di Cianjur. Bulan Agustus dan September berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya bulan November pun tiba, ko telat haid ya. Telat nya bukan main sampai seminggu.
Rasa penasaran pun timbul, jangan-jangan saya hamil. Rasa percaya diri luar biasa. Akhirnya kami berdua membeli tespack dab mencoba keesokan harinya, hasilnya "ko negatif ya? Apa mungkin belum terdeteksi? Yasudah coba lagi minggu depan. Saat dua minggu terlambat haid, saya akhirnya mencoba tespack lagi tetap hasilnya negatif. Ini pasti ada yang aneh.
Dengan izin suami, akhirnya saya memberanikan diri untuk ke dokter kandungan di temani mama saya. Saat ke dokter di timbang saat itu saya memiliki berat sampai 72,6 kg, berarti naik 7 kilo semenjak menikah. Tak lama menunggu akhirnya masuk ke ruang pemeriksaan. Saya membicarakan keluhan saya yaitu telat haid tapi selalu negatif. Lalu saya ditanya "apakah sebelumnya seperti ini?" lalu saya jawab "sebelum menikah memang tidak teratur haid nya dok, tapi pas setelah nikah teratur paling loncat 2 hari atau 3 hari".
Lalu saya di persilakan untuk tidur untuk di USG transvagina, hasilnya terlihat banyak folikel kecil telur dan menurut dokter sebentar lagi ini sebenernya haid, wow siklus terpanjang seumur hidup sampai 51 hari.
Akhirnya dokter mendiagnosa kalo saya terkena PCOS (Polikistik Ovarium Sindrom), yang menyebabkan tidak berkembangnya sel telur akibat ketidak seimbangan hormon. Hal itu disebabkan karena banyak faktor, karena saya termasuk obesitas, akhirnya dokter meminta saya untuk menurunkan berat badan antara 5-10 persen, semoga dengan turun nya berat badan bisa membuat silkus haid jadi membaik. Akhirnya saya di resepkan obat untuk pemicu haid dan metformin. Lalu dokter mengatakan "tantangan ibu dalam hal ini tidak hanya soal mengatasi PCOS, tapi Long Distance Married antara ibu dan suami, karena itu akan mempersempit waktu untuk berhubungan, belum lagi nanti kelelahan perjalanan akan mempengaruhi kualitas berhubungan".
Untuk lebih jelasnya, PCOS dan tentang obat yang saya minum yaitu metformin dan kegunaan untuk PCOS bisa dilihat di google, karena informasi tentang hal tersebut sudah sangat banyak. Kalo saya jelaskan dikhawatirkan saya salah menjelaskan.
Cerita selanjutnya nanti ya..
Komentar
Posting Komentar